MENDAPATKAN
KESADARAN MASYARAKAT TENTANG PENTINGNYA KEBEBASAN BEREKSPRESI DALAM MASYARAKAT
DEMOKRASI DAN MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP ORANG BIASA: KASUS INDONESIA
Izmy Nurkholifah
Prof. Andi
Faisal Bakti,M.A, Ph. D.
Fakultas Ilmu
Komunikasi Universitas Pancasila
Menurut jurnal ini adanya kesejajaran antara
konsep komunikasi dan konsep pembangunan. Anggota masyarakat sebagai penerima
memiliki reaksi yang berbeda terutama pada model pemerintah lama dan pemerintah
baru.Karena Pendukung model ini tidak tau bagaimana komunikasi bekerja
menyebabkan hasil di lapangan jauh di bawah prediksi dan mengalami kesalahpahaman
para pelaku komunikasi dalam menghadapi nilai-nilai tradisional-lokal.Hal ini
mengakibatkan pentingnya penerima belum diakui dan tujuan mewujudkan masyarakat
demokratis belum tercapai. Bagaimana
mendapatkan kesadaran masyarkat tentang pentingnya kebebasan berekspresi dalam
masyarakat demokrasi dan meningkatkan kualitas hidup orang biasa? Kenapa setiap
masyarakat (penerima) cenderung bereaksi berbeda-beda ketika program
pembangunan di implementasikan? Apa yang menyebabkan hasil lapangan jauh di
bawah prediksi yang menyebabkan para pelaku komunikasi mengalami
kesalahpahaman? Mengapa saat ini tujuan demokratis masyarakat belum tercapai? Mempelajari
dan membuat suatu perubahan serta menciptakan suatu hal baru dengan kreatifitas,
bakat serta ekspresi mereka dengan berani berekspresi. Peran pelajar bagi
pembangunan suatu negara sangatlah penting, karena para pelajarlah sebagai
penerus generasi bangsa. Indonesia sekarang membutuh kan para remaja / pelajar
yang dapat memberikan kontribusinya bagi pembangunan Negara, melalui bakatnya,
kemampuan, aspirasinya. Jadi, pelajar dituntut untuk berani berekspresi, karena
di Indonesia pun sudah ada kebebasan untuk berekspresi.
Teori
Development model modernisasi ini beserta difusi inovasi menuntut agar
informasi teknologi ditransfer dari sumber ahli melalui bantuan ekonomi, yang
disumbangkan oleh MDC, agar LDC dapat mencapai modernisasi. Konsekuensi
modernisasi yang tidak disengaja disoroti dalam model ketergantungan, di mana
negara-negara "Dunia Ketiga" menjadi tergantung pada negara-negara
kaya. Konsep Develpoment dimana
pembangunan dilakukan dengan mengandalkan teknologi dari barat. Hal ini di kemukakan
dalam From Develop Countries – Difusi Inovasi oleh Rogers. Rogers
mendefisinikan difusi inovasi sebagai proses sosial yang mengkomunikasikan
informasi tentang ide baru yang dipandang secara subjektif. Makna inovasi
dengan demikian perlahan-lahan dikembangkan melalui sebuah proses konstruksi
sosial .
Model
yang ditekankan oleh Shannon dan Weaver (1949), antara lain. SMCR" (Sumber-Pesan-Channel-Receiver)
yang di tambahkan"E" (Efek). Pendekatan ini menempatkan pengirim atau
sumber dalam posisi sebagai agen perubahan. Semua perbedaan ini muncul ketika
pemerintah menyimpulkan ide pengembangan kepada warga biasa. Mereka percaya
bahwa jika ide-ide ini disalurkan dengan tepat kepada penerima, mereka akan
secara otomatis mengubah sikap warga biasa. Karena itu, warga tidak akan lagi
menolak program pembangunan tetapi menerimanya. Model
pembangunan sosial-politik dan ekonomi saat ini dimodifikasi atau reorientasi.
Sebagai akibat tidak memperhitungkan para penerima (warga negara) sebagai
penerima aktif. Ide-ide inovatif dan bantuan asing kemudian tidak hanya
membuang-buang dana serta faktor kunci dalam peningkatan utang. Selain itu,
proyek yang tidak menguntungkan seluruh penduduk secara merata atau tidak
mengikuti saluran transparan selalu dipertanyakan, dan ketidakpercayaan yang
populer menyebabkan kegagalan proyek. Di masa lalu, proyek-proyek pembangunan
telah memberikan keistimewaan kepada kelompok-kelompok tertentu, yang
menyebabkan kecemburuan.
Keywords: Development,Change,Information,Indonesia,Dunia3